Aperture untuk Mengontrol Cahaya

JarakPandang.com – Selain shutter, cahaya yang masuk ke kamera juga dikontrol oleh aperture, dikenal juga dengan sebutan diafragma. Aperture berupa lubang yang terbentuk oleh kepingan-kepingan logam tipis yang terletak di dalam lensa. Caranya, dengan menyesuaikan lebar-sempitnya bukaan lubang tersebut.

Aperture bekerja seperti pupil pada mata. Saat cahaya terang pupil mengecil supaya mata tidak terlalu silau. Saat gelap, cahayanya redup, pupil pupil pun membesar supaya mata bisa melihat subjek dengan lebih jelas.

Untuk mengontrol cahaya yang masuk ke kamera, kalau intensitas cahayanya kuat, bukaan lubang aperture cenderung diatur pada bukaan sempit (f/8, f/11, f/16, f/22). Kalau intensitas cahayanya lemah, untuk mendapatkan jumlah cahaya yang lebih besar, bukaan lubang aperture cenderung diatur pada bukaan lebar (f/1.7, f/2, f/2.8, f/3.5, f/4, f/5.6).

Bukaan aperture menggunakan skala standar yang disebut f-stop. Pada umumnya, nilai f-stop lensa berkisar dari : f/1.4, f/2.8, f /3.2, f/4, f/5.6, … , sampai dengan f/64; terdapat banyak sekali pilihan lensa dengan variasi nilai f-stop yang berbeda-beda. Yang perlu dipahami, dengan nilai f-stop lebih kecil berarti bukaan lubang aperture semakin lebar, cahaya yang masuk bisa lebih banyak, kecepatan shutter bisa lebih cepat. Sebaliknya, nilai f-stop makin besar, bukaan aperturenya makin sempit, cahaya yang masuk makin sedikit, kecepatan shutter jadi makin lambat.

 

JarakPandang.com – Saat memotret di malam hari dengan kondisi sumber cahaya yang minim seperti ini, aperture perlu dibuka lebar (f/1.7, f/2, f/2.8, atau f/3.5) supaya cahaya yang masuk ke kamera lebih banyak sehingga kecepatan shutter-nya bisa lebih cepat.

 

JarakPandang.com – Di kondisi yang cahayanya berlimpah seperti ini, kita leluasa memilih bukaan aperture-nya. Dengan bukaan aperture sempit (f/8, f/11, f/16, atau f/22) kecepatan shutter yang tetap bisa tinggi sehingga tak khawatir foto objekjadikabur karena kameranya shake (goyang).

 

Tidak dapat dikatakan mana nilai f-stop yang mesti dipakai. Semua itu tergantung dari tujuan pengambilan fotonya, apa yang ingin ditonjolkan pada foto dan intensitas cahaya pada saat pemotretan. Karena bukaan aperture yang dipakai nantinya juga akan berpengaruh pada penggunaan kecepatan shutter dan ISO di kamera.

Dalam praktiknya, bukaan aperture lebar biasanya dibutuhkan saat memotret di kondisi yang cahayanya minim. Saat memotret siang hari di luar ruangan, saat cahayanya berlimpah, kita leluasa untuk memotret dengan bukaan aperture paling sempit sekalipun.

Leave a Reply