BLUR

JarakPandang.Com – Blur, efek kabur pada foto penyebabnya ada tiga hal. Foto bisa kabur karena titik fokus pada objek itu tidak tepat; kamera goncang atau objeknya bergerak saat memotret dengan kecepatan shutter; objek itu berada di area bokeh, area di luar cakupan ruang tajamnya.

Yang perlu jadi pertanyaan, apakah semua foto blur, dengan efek kabur seperti foto dia atas ini, pasti salah, pasti jelek? Tentu tidak.

Walaupun, foto dikatakan baik itu salah satu syarat teknisnya harus tajam, tapi syarat ini tidak harus jadi pedoman mutlak. Lalu, diaplikasikan pada semua foto.

Contohnya, cari saja foto tentang pemotongan hewan kurban di internet lewat Google Search! Apa yang akan muncul? Foto-foto proses pemotongan hewan kurban yang secara teknis baik. Eksposurnya pas, objeknya tajam. Tapi, perasaan apa yang bisa ditimbulkan dari melihat foto-foto tersebut?

 

 

Terus-terang, saya salah satu yang paling malas membuka internet, khususnya media sosial, di saat berlangsung perayaan Kurban. Alasannya, tidak nyaman dengan pemandangan tersebut karena orang-orang yang mengunggah foto-foto itu umumnya merekam prosesnya secara vulgar. Foto yang tajam membuat proses pemotongan hewannya terekam jelas lengkap dengan ceceran darah di mana-mana. Visual ini terlalu vulgar, sama sekali tidak bisa dinikmati.

Bandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ernst Haas di tahun 1956 dengan foto berjudul Toro yang diambilnya di Pamplona, Spanyol!

 

 

Rekaman seekor banteng yang terluka pada pertunjukkan matador yang direkam dengan teknik jiggling. Teknik memotret dengan kecepatan shutter lambat pada objek bergerak lalu kamera sedikit digerakkan naik turun mengikuti arah gerakan objeknya. Hasilnya foto dengan tampilannya yang kabur, seperti di bawah ini.

Apakah foto ini jelak? Jelas tidak. Ini justru saya anggap sebagai salah satu foto dengan teknik blur terbaik, favorit, yang membuat saya mengagumi akan pilihan teknik yang dilakukan Ernst Haas.

Realitasnya, apa yang dilakukan pada banteng di foto Ernst Haas tersebut lebih kejam dibanding pemotongan hewan kurban. Banteng ditusuk pedang satu-per-satu sampai akhirnya tersungkur, mati pelan-pelan. Karena dikemas dengan teknik yang tepat, visual fotonya malah jauh bisa dinikmati, bisa memberikan rasa nyaman pada yang melihatnya.

Jadi foto itu tidak hanya sekadar teknis semata. Ada faktor rasa yang juga mempengaruhi apa yang cocok, sebaiknya dilakukan pada sebuah objek dan situasi. Untuk menguasai ini, kuncinya banyak-banyaklah melihat foto untuk menambah wawasan dan pengalaman.

Leave a Reply