Mencoba Menarasikan Sebuah Pameran Foto

Waktu itu, saya diminta oleh teman-teman dari DOF, komunitas fotografinya pegawai Dirjen Pajak, untuk mempersiapkan sebuah pameran foto yang akan ditampilkan saat perayaan Hari Uang. Kebetulan, banyak teman dari DOF yang dekat dengan saya. Di sini, saya diserahi untuk memilih foto-fotonya.

Terus-terang, mempersiapkan pameran foto adalah sesuatu yang jarang saya lakukan. Karena ini pameran untuk internal, saya baru berani menerima permintaan mereka. Pamerannya pun sudah berlangsung hampir setahun lalu. Namun, pengalaman yang didapatkan dari proses itu baru sempat ditulis sekarang-sekarang ini.

Umumnya, saya hanya memilih foto dalam situasi penjurian sebuah lomba. Dalam situasi seperti ini, yang dipilih biasanya foto-foto tunggal, satu sampai enam foto pemenangnya saja. Foto paling mendekati tema, memiliki visual paling menarik atau unik, akan langsung terpilih menjadi pemenangnya.

Memilih foto untuk pameran, tantangannya berbeda. Tidak lagi memilih tiga foto tunggal terbaik, tapi harus memilih tigapuluh sampai empatpuluh foto yang nantinya memiliki peran sepadan untuk ditampilkan bersama-sama.

Foto berjudul “Jembatan Jaln Poros Maros” karya Andi Rahadi.

Untuk sebuah pameran, tema dan cerita (narasi) yang ingin disampaikan idealnya diolah dan dimatangkan di awal-awal. Foto yang dipamerkan dibuat dan dipilih mengikuti tema dan narasi yang sudah ditentukan. Namun kali ini, teman-teman DOF hanya memberikan tema besarnya saja, “Pajak untuk Pembangunan”. Jadi untuk pameran ini tantangannya tidak hanya sekadar memilih foto tapi sekaligus harus mengembangkan narasinya.

Mengapa tema saja tidak cukup untuk sebuah pameran foto?  Mesti ada narasinya juga?

Menikmati foto yang ditampilkan secara tunggal, pendekatan serta perasaan yang ditimbulkan menurutku berbeda dengan foto yang ditampilkan dalam jumlah banyak. Supaya bisa dinikmati, foto yang ditampilkan dalam jumlah banyak dalam sebuah pameran sebaiknya memiliki cerita yang beralur. Alur tersebut bisa berdasarkan urut-uratan kejadian, sebab-akibat, proses input-output, atau yang lainnya.

Jadi, foto-foto yang dipilih tidak hanya dilihat dari unsur visual dan kesesuaian temanya saja. Tapi, apakah foto-foto tersebut juga bisa menempati peran dalam alur cerita yang ingin dinarasikan.

Foto berjudul “Proyek Elevated Road di Kota Maros” karya Andi Rahadi.

Di pameran foto Hari Uang oleh teman-teman DOF, sebagai foto tunggal hampir semua foto-foto aerial kiriman Andi Rahadi memiliki visual yang ciamik dan kedekatan dengan tema yang kuat. Andi mengirimkan hampir delapan foto untuk dipilih. Tapi, apakah foto-foto tersebut harus dimasukkan semuanya? Celakanya, sebagian besar foto-foto yang dikirim untuk dipilih karakternya hampir sama. Foto proses pemanfaatan uang pajak untuk pembangunan infrastruktur, seperti foto “Pembangunan Pelabuhan Ahmad Yani di Maluku Utara” yang dikirimkan oleh Arief Kuswanadji.

Foto berjudul “Pembangunan Pelabuhan Ahmad Yani di Maluku Utara” karya Arief Kuswanaji.

Menurut saya, menikmati sebuah pameran foto pengalaman yang dirasakan seperti halnya menikmati sebuah film panjang. Sebuah film panjang tidak bisa lagi dinikmati kalau seluruh adegannya berisi klimaksnya terus-menerus. Termasuk film laga sekalipun. Kalau dari awal sampai akhir isinya hanya sekadar adegan perkelahian pasti jadinya membosankan. Karena itu, dikenal istilah struktur tiga babak di dalam skenario sebuah film yang dijadikan alat untuk mempermainkan emosi dari penontonnya supaya film tidak lagi monoton.

Foto “Jalan di Pelosok Negeri” dari Makhfal Nasirudin dan foto milik Aditya Perdana yang masuk di akhir-akhir menjadi penting karena narasi dari pameran tersebut akhirnya bisa diperluas.  Tidak hanya sekadar bercerita tentang aktivitas pembangunan tapi juga bisa ditambahkan cerita mengapa pembangunan tersebut diperlukan. Apalagi, saat pameran tersebut dilakukan, sedang kencang berita kalau pemerintah sedang ingin membangun Indonesia dari pinggiran. Foto-foto yang mengggambarkan daerah rural tersebut pun bisa dijadikan foto pembuka.

Foto berjudul “Jalan Mulus di Pelosok Negeri” karya Makhfal Nasirudin.
Foto karya Kelvin Aditya Perdana.

Narasi dari pameran pun makin lengkap karena ada foto “Pajak untuk Pendidikan” kiriman Setiawan Kusumo Jati dan “Tinggal Landas” dari Ardyanto Patandung yang menutup alur ceritanya. Yangmana, ddi salah satu foto tersebut ada rangkaian kata “Rawatlah Aku” dan anak-anak yang bisa menjadi gambaran dari masa depan.

Foto berjudul “Pajak untuk Pendidikan” karya Setiawan Kusumo Jati.
Foto berjudul “Tinggal Landas” karya Ardyanto Patandung.

Dengan memperhatikan dinamika dan konteks pemerintah yang ingin membangun Indonesia dari pinggiran, maka foto-foto yang dikirimkan untuk pameran peringatan Hari Uang bisa dinarasikan: Dengan pajaklah pembangunan bisa terus dilakukan dari pinggiran supaya untuk terus bisa merawat masa depan Indonesia untuk dapat tinggal landas menjadi negara yang berkemajuan. Akhirnya, foto-foto yang ada dibaca dan dipilih berdasarkan cerita dan keterbacaannya. Apakah foto tersebut bisa menempati peran dalam narasi (alur cerita) tersebut. Tidak hanya sekadar dari seberapa menarik dan kedekatan bentuk dari elemen visualnya saja. Alur ini juga yang menentukan dimana foto-foto tersebut ditempatkan di arena pameran. Dan yang tidak boleh ketinggalan, narasi ini juga harus dikomunikasikan kepada audiens pameran.

Leave a Reply