Mendekat dan Berbaurlah dengan Mereka!

JarakPandang.Com – Buat yang suka melakukan perjalanan sekaligus fotografi, bisa membawa foto-foto keren ke rumah rasanya akan lebih menyenangkan dibanding oleh-oleh lain, seperti makanan atau cinderamata khas daerah itu. Tidak heran, kita sering melihat ada banyak yang langsung lapar mata, buru-buru mengeluarkan kamera, tak berhenti memotret, merekam apa saja yang ada di depannya dari begitu tiba di tempat tujuan sampai mau habis waktu turnya.

Apakah kebiasaan seperti itu salah? Jelas tidak. Saya juga bakalan senang, kok, kalau dapat foto-foto perjalanan keren yang visualnya cantik, menarik.

Datang ke tempat baru, langsung melakukan sesuatu tanpa lebih dulu berbasa-basi dengan orang-orang yang ada di tempat itu bukan sesuatu yang biasa saya lakukan. Terus-terang, saya bukan tipe orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, loh. Harus pelan-pelan, santai, merasa nyaman dengan lingkungan sekitar, baru kemudian bisa melakukan ini-itu.

Walaupun tujuan ke tempat itu memang untuk memotret, pertama yang biasa saya lakukan justru bersantai, melihat-lihat lingkungan tersebut supaya bisa menikmati suasananya. Atau, kalau perlu meminta ijin dulu ke mereka. Lha, pernah suatu kali sudah dapat ijin dari temennya saja masih ada yang ngajak ribut. Hal seperti inilah yang sebaiknya kita hindari. Apalagi, kalau kita belum paham dengan karakter warga setempat. Berkenalan, berbincang sampai mereka pun menerima kehadiran kita dan juga merasa nyaman itu penting.

 

JarakPandang.Com – Saat mengerjakan buku foto tentang Ruang Bermain di Jakarta, dari mendekat dan berbincanglah saya bisa mendapatkan banyak cerita menarik, Salah satunya, cerita tentang bagaimana anak-anak dari keluarga miskin di daerah Rawa Buaya mesti membayar Rp 2000 per 15 menit untuk sekadar bisa bermain “games” di tablet.

 

Kalau setiap pergi ke tempat baru harus seperti itu apakah tidak buang-buang waktu?

Dengan mendekat, berbaur, dan berbincang dengan mereka, kita bisa mendapat imbal-balasan yang lebih berharga. Cerita-cerita yang seringkali tidak terduga. Dari cerita itu kita akan bisa memilih, mengembangkan fotonya seperti apa. Apa saja yang mesti kita ambil di tempat itu? Berawal dari ceritalah, objek yang semula kita anggap biasa bisa menjadi istimewa. Foto itu mungkin saja jadi foto terkuat karena latar belakang ceritanya.

Membiasakan diri mendekat, berbaur, menggali cerita dari subjek foto juga sejalan dengan pemikiran Robert Cappa, fotografer legendaris dari Magnum Photo, lewat sebuah kutipannya yang terkenal, “If your pictures aren’t good enough, you aren’t close enough.” Yang saya yakini, tujuan mendekat ke subjek yang diinginkan oleh Cappa dalam kutipan tersebut memang untuk menggali cerita sebanyak-banyaknya.

Apalagi, teknologi kamera digital yang makin canggih membuat teknis fotografi bukan lagi hal yang rumit untuk dipelajari. Semua orang makin mudah untuk membuat foto cantik dengan teknis yang baik.

Kalau tidak percaya, coba saja cari foto-foto Gunung Bromo lewat Google. Foto-foto cantik tentang Bromo sangat banyak, yang membuat pun tidak harus fotografer professional atau yang sudah berpengalaman. Sekilas, foto-foto cantik itu akan mampu menarik perhatian, tapi sulit untuk bisa membekas dalam ingatan. Karena, dalam konteks visual memang hampir tidak ada unsur kebaruan di foto-foto tersebut. Terlalu banyak foto bagus yang mesti dilihat, yang mirip, yang membuatnya sulit untuk diingat satu per satu.

Sebuah foto akan menjadi istimewa salah-satunya karena foto itu berbeda dengan foto-foto lainnya. membuat perbedaan itu bisa dimulai dari cerita dibalik orang-orang yang ada di foto tersebut. Bagaimanapun, di tempat dan waktu yang sama, cerita dan pengalaman setiap orang yang kita temui hampir pasti berbeda dan masing-masing berubah sangat dinamis.

Sekali lagi, mendekat dan berbaur adalah langkah awal untuk bisa menggali cerita tersebut dari mereka untuk kemudian menemukan satu yang istimewa yang bisa dimasukkan ke dalam cerita foto kita.

Leave a Reply