Menyapa Curug Ciampea

JarakPandang.com – Dibanding curug, air terjun, lainnya yang ada di kawasan Gunung Bunder, Curug Ciampea bisa dibilang paling sepi. Lokasinya memang tersembunyi. Lagian, untuk sampai lokasi perlu trekking sekitar 45 menit sendiri.

Titik awal yang paling banyak dilalui dari Bedeng, sebutan dari warga sekitar untuk Villa Organik Botani, penginapan di sebelah kiri yang hanya berjarak 200 meter dari pintu gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Begitu turun dari Bedeng, kita akan langsung disambut dengan sungai terusan Curug Ciampea yang berair jernih. Tidak perlu menerabas air sungai untuk menyeberanginya. Warga sudah membangun jembatan bambu di atasnya. Jembatanya lebar dan kokoh. Aman dilalui oleh beberapa orang sekaligus.

 

JarakPandang.com – Aliran sungai dari Curug Ciampea yang berair jernih dengan alam lingkungannya yang masih asri.

 

Setelah itu, ada jalan setapak berbatu yang bisa diikuti sampai ketemu area terbuka, area persawahan yang masuk kawasan Perhutani, yang sudah turun-temurun digarap warga.

Dalam bersepeda, dari Tanjung Barat ke Gunung Bunder, tidak hanya soal seberapa kuat dan jauh mengayuh pedal, juga bukan sekadar seberapa indah tempat yang jadi tujuan, tapi juga tentang orang-orang yang kita sapa dan temui selama di perjalanan.

Pak Aboh, warga Kampung Kebon Kopi, dari Desa Gunung Bunder 2, yang sedang menjaga lahan sawahnya yang padinya mulai menguning pun menahan langkah kaki saya.

Ya! Di saat sudah menguning, seperti sekarang ini, padi harus terus ditunggui supaya burung tidak terus-terusan memakannya. Padahal, ukuran sawah garapannya tidak seberapa. Padi dari sawah tersebut hanya cukup untuk kebutuhan sebulan saja.

 

JarakPandang.com – Pak Aboh, warga Kampung Kebon Kopi, Gunung Bunder, yang mengolah area persawahan di kawasan lahan Perhutani, yang terhampar di sepanjang jalan setapak menuju Curug Ciampea.

 

Kegigihan orang-orang seperti Pak Aboh inilah yang membuat kita selalu bisa belajar untuk terus bersyukur. Menghargai setiap makanan yang kita punya dan tidak selayaknya untuk menyia-nyiakannya. Sebutir nasipun sebaiknya tidak. Walau makanan itu mungkin biasa, hambar rasanya, banyak orang yang harus berjuang tiada henti untuk mendapatkannya.

 

JarakPandang.com – Pak Ohan, penjual minuman dan kopi yang setaip hari berjaga di Curug Ciampea.

 

Di ujung perjalanan, di Curug Ciampea pun, kita masih akan bertemu orang seperti Pak Ohan. Kakek penjual minuman yang sehari-hari ada di Curug Ciampea. Minuman yang dijualnya pun tidak istimewa, hanya kopi sachet dan minuman kaleng biasa. Tapi, yang menarik perhatian adalah apa yang dilakukannya di sela-sela waktu berjualannya.

Batu-batu kecil di sekeliling curug diangkatnya satu persatu, lalu ditatanya. Bapak ini membuat jalan di kawasan sekitar curug jadi lebih ramah untuk pengunjung. Batu-batu yang jadi pijakan dibuatnya rapi, batu yang jadi tempat duduk dibuatnya bersih. Termasuk bebatuan dalam genangan curugnya.

Leave a Reply